Surat untuk Tuan Canna


Ini barang buktinya, hahaha.. 

Pagi itu, seperti biasa air yang terasa dingin membuatku enggan melangkah ke kamar mandi, seperti biasanya menjelang sianglah waktu yang paling tepat buat mandi, pikirku. Sembari menunggu waktu tersebut aku duduk dikamar memperhatikan kamar yang sudah bertahun-tahun tidak aku tinggali kecuali pada saat libur sekolah atau mudik pada saat libur lebaran kala masih kuliah.

Mataku tertuju pada keranjang berisi setumpuk poster dan majalah koleksiku di masa sekolah dulu. Ya, aku memang sangat menyukai sepakbola dan mengoleksi banyak sekali poster-poster pemain bola. Ku tarik keranjang tersebut, ku buka satu demi satu poster dan majalah jadul yang masih tersusun sangat rapi tersebut. Diantara tumpukan-tumpukan poster yang jumlahnya ratusan, aku menemukan selembar salinan surat yang dulu aku ketik dan aku kirim untuk idolaku kala itu, Fabio Cannavaro seorang pemain sepakbola berkebangsaan Italian yang bermain untuk klub AC Parma kala itu. Sosok tuan Canna memang benar-benar menjadi figur yang sangat ku idolakan. Cara dia membaca permainan, cara dia mematahkan serangan lawan, dan tentu saja parasnya yang rupawan.

Seperti kebanyakan remaja pada umumnya, ada saja hal yang dilakukan yang berkaitan dengan sang idola. Beberapa diantaranya mungkin melakukan hal yang tentu sangat menyenangkan seperti menyaksikan idola mereka bermain di lapangan, bertemu dan foto bareng serta minta tanda tangan mereka. Namun sayangnya, aku tidak termasuk kedalam bagian tersebut. Tuan Canna berada jauh di negeri Pizza sana, sedangkan aku berada dalam disebuah desa terpencil di Kalimantan Selatan yang bahkan internet pun aku belum tau saat itu.

Mengoleksi poster-posternya dan menyaksikan tuan Canna beraksi dilayar kaca adalah hal paling mungkin kulakukan. Kala statsiun tv di Indonesia menyiarkan pertandingan klub dimana tuan Canna bermain atau saat tuan Canna beraksi membela timnas Italia sudah bisa dipastikan saya sedang berada didepan layar kaca untuk menyaksikannya. Saat bermain bola bersama teman-teman akupun secara tidak langsung sering meniru gayanya bermain di lapangan, caranya berlari, caranya bermain, caranya merapikan rambutnya yang acak-acakan setelah menyundul bola, dan sebagainya yangmana apa yang aku rasakan saat itu adalah aku ingin menjadi seperti seorang Fabio Cannavaro. Tak jarang juga aku berandai-andai jika suatu saat bertemu tuan Canna, bahkan sampe kebawa mimpi juga lho. Bukannya mimpiin cewek idola malah mimpiin tuan Canna. Hehe...

Terinspirasi dari kisah seorang pembaca majalah LIGA ITALIA bernama kak Indah Sri Mulyani yang kala itu sedang melanjutkan study di Yogyakarta dimana ia mengirimkan surat dan akhirnya mendapatkan surat balasan plus foto dan tanda tangan asli idolanya Gianluigi Buffon, saya pun berinisiatif untuk menulis dan mengirimkan surat kepada tuan Canna. Kala itu ngetiknya pake mesin ketik, boro-boro komputer, mesin ketik aja minjem ama temenku yang bapaknya punya mesin ketik. Haha...

Dengan bimbingan dan petunjuk dari kak Indah juga tentunya, yang saya konsultasikan melalui surat, dengan harapan saya juga mendapatkan balasan dan foto dari tuan Canna. Namun sampai detik ini, harapan tersebut tidak terwujud. Haha.. Kasian dh gw, mungkin suratnya gak nyampe ke Italia atau mungkin aja nyampe tapi dicuekin ama bang Canna. Itulah surat pertama yang ku kirim buat tuan Canna, karena gak ada respon atau balasan aku putuskan untuk tidak mengirimkan surat lagi untuknya karena mungkin tuan Canna tidak punya waktu untuk menerima surat yang jumlahnya tentu tidak sedikit dari fans nya, apalagi surat dari aku yang bahasa Inggrisnya saja carut marut gitu. Haha.. Modal nekat. Ini dia penampakan dari salinan surat buat tuan Canna yang ku ketik sekitar 12 tahun yang lalu, masih sangat rapi meski kertasnya udah gak sebersih dulu. Bahkan surat dan ampop  balasan dari Kak Indah itu masih kusimpan rapi di brankas dokumen kamarku. Jika saat itu aku sudah mengenal internet mungkin aku bisa berkomunikasi dengan kak Indah melalui email atau chatting. Hehe..




Contoh dari Kak Indah

Apapun itu, itulah sekelumit cerita masa lalu yang mana jika aku mengingatnya membuat aku senyum-senyum sendiri (untung cuma senyum, kalo ketawa-ketawa sendiri mah bahaya, hehe..). Masa menjelang aku SMP, masa dimana kertas surat, amplop, prangko dan prangko balasan masih memegang peranan penting dalam komunikasi. Masa dimana ponsel adalah barang mewah untuk bisa dimiliki dalam genggaman, masa dimana aku belum tau apa itu internet. Ya masa remajaku yang tinggal lumayan jauh dari kawasan perkotaan membuatku sangat tertinggal perkembangan teknologi. Meski demikian aku bersyukur sempat merasakan berkirim dan berbalas surat melalui pos dengan teman-teman yang ada di 1 propinsi, ataupun berbeda pulau, merasakan kemajuan teknologi seperti internet, smartphone dan sebagainya, dua jaman yang kurasakan yang mungkin gak semua remaja sekarang bisa alami. Hehe...

Salah satu amplop suratnya

Tujuannya

Setelah 8 tahun, akhirnya maen bola lagi

Sebamban 3 blok B
 Ini dia skuad timnas RT 03 Wkwkwk...

Sudah kurang lebih 8 tahun saya tidak pernah bermain sepakbola, olahraga yang sebenarnya paling saya gemari. Itu karena selama tinggal di Jogja saya tidak ada teman yang bisa diajak bermain bola karena minim nya lapangan, teman-teman yang suka maen sepakbola, dan waktu juga kali ya, haha sok sibuk. Alternatif lain selama tinggal di Jogja untuk melampiaskan kecintaan pada sepakbola adalah futsal. Karena futsal adalah "adeknya" sepakbola dimana cara umum permainan nya sama namun ukuran lapangan, jumlah pemain, peraturannya memang berbeda. Selain futsal, olahraga yang kadang saya mainkan di kota gudeg tersebut adalah badminton bersama teman-teman kampus.

Futsal pun bisa dikatakan tidak rutin hanya 1 kali dalam seminggu, selama kurang lebih sampai tahun 2011. Setelah itu sudah hampir tidak menginjakkan kaki lagi di lapangan futsal, hanya sesekali saja, bahkan 1 kali dalam 2 bulan pun belum tentu memainkan olahraga yang menyenangkan ini. Itu adalah alasan mengapa kondisi fisik saya sangat lemah, baru lari masuk lapangan 5 menit aja udah ngos-ngosan nafasnya.
Waktu mudik ke kampung halaman kemaren disuruh ikut berpartisipasi meramaikan acara agustusan di kampung. Karena kebetulan lebaran tahun ini berdekatan dengan perayaan kemerdekaan yang dirayakan pada 17 Agustus. Pada perayaan agustusan kali ini ada beberapa olahraga yang dilombakan sama dengan tahun sebelumnya, salah satunya yakni sepakbola. Karena tingkat desa maka pesertanya adalah antar RT. Sudah sekian lama gak nginjak lapangan bola, akhirnya maen lagi walaupun pada awalnya sempat ragu apakah masih kuat ngejar bola dilapangan yang segitu gedenya.

Sebamban 3 blok B
Kebagian nomer punggung 11

Namun karena Cuma pengen ikut meramaikan aja akhir nya saya putusin untuk ikut bermain membela RT 3 Desa Dwi Marga Utama, kampung halaman saya. Bermodal sepatu bola minjem (karena Cuma punya sepatu futsal), kostum dari temen-temen se RT akhirnya saya pun menendang bola lagi setelah hampir 8 tahun gak pernah nendang bola dilapangan sepakbola, waktu off yang sangat lama untuk itungan seorang penggemar bola. Hehe..

Koleksi majalah sepakbola waktu SMP

Majalah Liga Italia
 Salah satu majalah yang paling saya sayang karena model cover nya yang keren. Wkwk

Dulu saat saya belum mengenal dunia internet (maklum hidupnya di desa hehe..) saya sering membeli tabloid atau majalah sepakbola dengan tujuan utama mengoleksi bonus poster yang disajikan tabloid/majalah tersebut, tujuan lainnya tentu aja buat update informasi terhangat dari liga-liga sepakbola yang bergulir di eropa sana.

Majalah adalah media kedua, yang utama tentu aja nonton tv buat ngikutin perkembangan berita bola. Selain nonton siaran langsung pertandingan nya di tv, dulu saya juga tak pernah melewatkan cuplikan-cuplikan pertandingan, atau acara semacam planet football, lega calcio, highlights liga Inggris, atau acara sejenis itu lah. Ibu saya adalah orang yang paling sering membelikan majalah atau tabloid ini. Jika beliau bepergian ke Banjarmasin (Ibukota Propinsi) atau Batulicin (Ibukota Kabupaten), sudah bisa dipastikan beliau membelikan saya satu eksemplar atau lebih tabloid/majalah sepakbola untuk dibaca, saya minta ataupun tidak saya minta. Dan saya sangat senang untuk itu. Selain ibu, sesekali mamiq saya (mamiq adalah panggilan ayah dalam bahasa lombok) juga membelikannya untuk saya.

Majalah yang paling saya suka adalah Majalah LIGA ITALIA, karena ketika itu Liga Italia adalah Liga yang paling saya suka dikarenakan pemain bola idola saya Tuan Fabio Cannavaro dan Tuan Zinedine Zidane bermain di liga tersebut. Alasan lain, karena majalah yang terbit 2 kali sebulan ini juga di kemas eksklusif dan full colour. Kala itu (sekitar tahun 1999-2000 an) harga majalah ini adalah Rp. 20.000. Selain majalah LIGA ITALIA, majalah lain yang saya suka kala itu adalah majalah LIGA INGGRIS yang memuat berita terbaru di sepakbola Inggris. Majalah LIGA INGGRIS merupakan “adik” dari majalah LIGA ITALIA yang juga dibandrol dengan harga Rp. 20.000 untuk tiap edisinya. Media cetak lain tentang bola yang sering ibu belikan buat saya adalah Tabloid BOLA, Tabloid GO, Tabloid SOCCER, dan majalah SPORTIF. Kala itu Tabloid BOLA dan GO bisa kita miliki dengan membayar Rp. 3.500 untuk tabloid BOLA dan Rp. 3.000 untuk tabloid GO, harga Tabloid SOCCER Rp. 5.000, sedangkan untuk majalah SPORTIF adalah Rp. 9.000. Sedangkan untuk edisi poster yang paling sering saya beli adalah BOLA edisi poster yang dulu harganya Rp. 8.500 dan LIGA FANS Album Poster Megastar yang dibandrol harga Rp. 20.000 untuk tiap edisinya.

Selain saya, ada beberapa teman kecil dikampung saya yang dulunya juga hobi mengoleksi poster-poster pemain bola sehingga kami sering bertukar poster atau pin up.

Hal buruk yang saya lakukan dengan majalah atau tabloid tersebut setelah saya ambil posternya adalah menggunting nya (mengambil beberapa gambar) kemudian membuang atau meletakkannya entah dimana sehingga majalah itu akan musnah dengan mudahnya. Selain itu, kalau sudah dibaca biasanya majalah yang sudah bertumpuk saya jual kiloan alias diloakin. Sekarang baru sadar mending dulu disimpen aja tuh tabloid-tabloid. Namun saya beruntung juga karena sempat menyimpan beberapa majalah dan tabloid yang saya simpan dikamar dengan meletakkannya kedalam keranjang. Ini dia beberapa koleksi majalah yang masih terselamatkankan itu, jika dilihat dari tanggal terbit majalah-majalah tersebut sampai hari ini, maka rata-rata majalah-majalah itu sudah tersimpan sekitar 13 tahun lamanya.

Ini dia beberapa koleksi majalah lawas saya yang beruntung kena jepret...

Majalah Liga Inggris
Majalah Liga Inggris

Majalah Liga Italia

LIGA FANS Album Poster Megastar

Flo, legenda Chelsea

Tabloid Soccer dengan cover Kapten Canna, pemain bola idola saya

 
Tabloid GO


Koleksi waktu SMP dulu masih disimpen sampe sekarang

 
Majalah Sportif

 Poster Ronaldo Brazil dan Nakata AC Parma

Adidas Predator Lethal Zones

 Adidas Predator Lethal Zones

Apparel olahraga ternama adidas kembali meluncurkan produk terbaru ke pasar dunia, Predator Lethal Zones yang diproduksi di Indonesia. Jujur ane ngiler saat pertama kali melihat desain sepatu bola dan futsal yang satu ini hasil dari browsing di internet. Perpaduan design dan teknologi yang menakjubkan disempurnakan dengan perpaduan yang keren abis, apa hendak di kata isi dompet ini masih terlalu tipis untuk membungkus nya sepasang saja dari counter resmi adidas yang ada di ambarukmo plaza. Hiks..

Mari kita lanjut membahas si sepatu keren ini. Predator Lethal Zones diklaim mempunyai bobot yang lebih ringan dan dilengkapi 5 zona untuk mengendalikan bola dengan sempurna. Kelima zona tersebut adalah Dribble di sisi samping luar yang dirancang untuk mencengkeram bola dengan optimal saat digiring. Zona yang kedua adalah First Touch di bagian ujung depan atas yang berfungsi sebagai bantalan yang mampu menerima dan menghentikan bola secara langsung. Zona ketiga adalah Sweet Spot pada bagian depan samping dalam yang didesain untuk menghasilkan putaran dan kecepatan yang baik ketika menendang bola ke arah target.

Adidas Predator Lethal Zones yang hadir dalam warna bright blue, infared, collegiate navy dan white ini menggunakan sprint frame di kontruksi sol luar yang ditampilkan di adiZero F50, menawarkan keseimbangan yang sempurna. Bagi anda yang hobi bermain bola atau futsal, Adidas Lethal Zones ini bisa anda jadikan pilihan untuk meningkatkan performa anda dilapangan. Selamat mencoba guys..






About Football



Bukan lah hal baru jika Sepakbola merupakan olahraga paling populer di jagat raya ini. Tak sedikit orang menganggap bahwa sepakbola merupakan suatu kenikmatan dan kepuasan tersendiri. Baik itu menonton, ataupun memainkannya. Sejak kecil saya suka bermain bola, entah itu di halaman rumah, di lapangan kampung, atau di lapangan bola di sekolah. Di sekolah pun, olahraga yang paling sering saya mainkan bersama teman-teman seusia adalah sepakbola. Olahraga ini terus menjadi favorit saya dan selalu rutin saya mainkan bersama teman seusia di SMP sampai SMA, hanya saja setelah kuliah saya sudah hampir tak pernah bermain bola lagi, namun berpindah ke futsal, olahraga yang nyaris sama dengan sepakbola yang bisa dikatakan sepakbola mini, namun tentu tetap berbeda.

Masih jelas terlintas dalam ingatan saya, sekitar 13 tahun lalu ketika usia saya memasuki angka belasan tahun saya sering meminta kepada ibu untuk dibelikan baju sepakbola kala itu (sekarang baru tau kalo namanya jersey), minta dibelikan sepatu bola, minta dibelikan majalah atau tabloid yang membahas tentang sepakbola, sampai menyimpan artikel dari koran jika memuat berita tentang sepakbola terutama pemain yang terkenal kala itu (Roberto Baggio, Romario, Batistuta, dsb). Meskipun dulunya saya sering latihan dan bermain bola, namun bakat seorang pemain tampaknya tidak ada dalam diri saya. Sampai dengan saat ini saya hanya sebagai penikmat saja, meskipun sesekali masih bermain futsal untuk sekedar mencari keringat dan tentu saja memainkan sikulit bundar.

Seperti kebanyakan orang yang menyukai olahraga ini, saya  sendiri juga mempunyai pemain favorit. Pele, Maradona, Cantona, Platini, Van Basten, Gullit, adalah beberapa nama pemain bola terbaik yang pernah lahir ke bumi ini. Namun saya hanya sebatas mendengar nama mereka, dan melihat aksi mereka melalui video-video yang tidak terlalu banyak menunjukkan aksi mereka pada saat mereka berada pada masa kejayaan masing-masing. Saya sendiri tidak dapat menyaksikan aksi mereka pada saat itu karena saya tidak berada pada zaman itu. Pada saat saya mulai menyukai sepakbola nama-nama hebat yang saya tau adalah macam Zinedine Zidane, Roberto Baggio, Gabriel Batistuta, Ronaldo Luiz Nazario da Lima, Fabio Cannavaro, David Beckham sampai dengan masa sekarang ini yang di huni bintang-bintang hebat seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo sampai Frank Lampard. Dari sekian banyak pemain bola dengan masing-masing karakter yang mereka miliki, dengan segala kekuatan maupun kelemahan yang ada pada diri mereka saya mempunyai beberapa pemain favorit.

Yang pertama adalah Zidane. Bagi saya dia adalah sang maestro lapangan hijau. Pada saat membela Juventus, kemudian Madrid maupun melakoni pertandingan bersama negaranya Perancis, saya selalu menanti dan terkagum dengan apa yang ditunjukan Zidane. Menurut saya visi bermain, kontrol, skil yang dimiliki Zizou (panggilan Zidane) berada diatas rata-rata. Hanya saja dia memang tidak terlalu mempunyai speed yang bagus. Sebagai seorang pemain sepakbola hampir semua gelar bergengsi pernah diraihnya, yakni sebagai juara liga, juara liga champions, piala eropa, piala dunia bahkan pemain terbaik dunia. Pemain lain yang saya kagumi adalah seorang pemain belakang yang pernah bermain di AC Parma, Juventus, Real Madrid dan pernah memimpin Italia untuk menjuarai piala dunia, Yup.. Dialah Fabio Cannavaro. Selain memiliki paras yang rupawan, Canna sangat jago dalam bertahan. Cara dia membaca permainan lawan sangat baik, sehingga dapat mematahkan serangan yang mengancam gawang tim nya. Meski memiliki postur tubuh yang kurang ideal bagi seorang bek tengah, namun Canna dapat menutupinya karena dia memiliki loncatan yang tinggi. Masa-masa SMP-SMA diantaranya saya lalui dengan mengoleksi poster-poster pemain favorit saya ini. Dan dimasa kini sang maestro sepakbola sudah memutuskan untuk pensiun, aksi-aksinya dilapangan hijau tentu hanya tinggal cerita yang akan selalu diingat banyak orang, terutama para pecinta bola. Cannavaro sendiri sudah melalui masa-masa kejayaan dalam karir nya, kini sinar sang bintang sudah mulai meredup dan tampaknya karir nya di lapangan hijau tak akan bertahan lama dan segera menyusul sang maestro untuk gantung sepatu. Meskipun kini semua sudah berlalu, bagi saya Zidane dan Cannavaro adalah pemain-pemain terbaik yang pernah terlahir didunia untuk meraih kejayaan di masanya.

Selanjutnya Frank Lampard lah yang menjadi favorit saya, visi bermain yang dimilikinya sangat baik, dialah pengatur serangan di tim yang ia bela, selain itu dia juga mempunyai tendangan yang keras dengan akurasi yang tetap terjaga, tak heran jika ia sering mencetak gol dari jarak yang cukup jauh. Meskipun bermain dilapangan tengah sebagai midfielder, naluri mencetak gol seorang Lampard tak kalah dengan seorang striker.

Untuk klub, Chelsea adalah yang paling saya sukai. Saya adalah fans Chelsea sejak tahun 2004, kira-kira 1 tahun setelah klub asal kota london tersebut diakusisi oleh taipan minyak asal Rusia, Bos Roman Abrhamovic. Setelah sebelumnya pada saat SMP-SMA saya menjadikan Parma dan Juventus sebagai tim favorit, setelah itu sampai dengan saat ini Chelsea tak pernah terganti dihati saya. Rada leba dikit.

Apa alasan utama seseorang menyukai sebuah klub sepakbola? Apakah karena ia berasal dari daerah yang sama, faktor sejarah klub tersebut, permainan klub tersebut yang dianggap bagus, klub yang bertabur bintang, atau apakah karena ada pemain yang diidolakan bermain di klub tersebut? Apa saja jawabannya tentu itu bukan hal yang dilarang. Karena banyak alasan untuk mencintai sebuah klub dengan beribu kisah nya. Untuk urusan klub lokal,faktor geografis menjadi satu-satunya alasan untuk saya mendukung Barito Putera. Saya dilahirkan dan dibesarkan di propinsi Kalimantan Selatan, yang sampai saat ini hanya memiliki 1 tim kebanggaan orang Kalsel, yakni Barito Putera.

Untuk Chelsea, tentu saja berbeda dengan kasus penyebab saya mendukung Barito Putra, karena saya tidak berasal atau sedang tinggal di ibukota Inggris, London. Ini lebih kepada tempat pemain yang saya idolakan bermain, Frank Lampard. Bahkan sampai saat ini Super Frank masih bermain untuk the blues dan tetap masuk kedalam tim reguler Chelsea meskipun klub tersebut kerap bongkar pasang pelatih. Setelah Lampard pensiun nanti entah apakah saya masih mencintai Chelsea? Saya sendiri tidak tahu apa jawaban nya, namun sampai saat ini Chelsea adalah tim paling lama bertahan menjadi klub yang saya dukung. Tentu saja faktor penyebab seseorang mendukung klub tertentu tidaklah kemudian sama seperti saya alami. Yang tertulis di atas adalah pengalaman pribadi saya. Sementara penyebab lain bisa bermacam-macam.

Ada yang berawal mula karena pemain yang diidolakannya bermain di klub tertentu. Dan ketika pemain tersebut pensiun atau tak lagi bermain untuk klub tersebut, kesetiaan pendukung itu tetap bertahan.  Hal yang tidak saya alami pada saat mendukung Parma ataupun Juventus dulu. Namun saya rasa itu akan terjadi pada Chelsea. Apapun alasannya, saya rasa telah terlanjur jatuh cinta dengan Chelsea. Namun, sedemikian cinta nya saya pada sepakbola dan Chelsea tentu itu bukan itu lah yang pertama dan utama, bahwa sepakbola hanyalah sebatas hobi, yang mana bila kita menyukai nya harus tetap pada batas-batas tertentu.

Dona at JFL

Numpang foto sebelum pulang

JFL adalah singkatan dari Jogja Futsal Land. JFL merupakan salah satu tempat paling sering Dona latihan futsal. Alamat nya terletak di jalan Timoho, Yogyakarta. Selain tempatnya asik dan bersih, JFL ini juga lokasinya gak terlalu jauh karena berada di tengah-tengah klo dilihat dari tempat tinggal temen-temen Dona. Di tempat ini juga dulu pernah ada temen yang mau ribut gara-gara sparing futsal. Bukan tim saya sih yang sparing, tapi ane cuma diajakin ma temen-temen UKM Musik UAD buat maen bareng, ada-ada aj. Sparing kan buat nguji kemampuan, cari keringet sekalian bisa nambah temen, bukan nya nyari ribut. Hehehe..
Ini dia nih dokumentasi Dona FC waktu pada beberapa kesempatan di JFL Jogja, lumayan buat kenang-kenangan.

 
Angga, Robby, Amir, Iqbal, Didik, Saya dan Azim

 
 Numpang maen futsal di JFL

 
Woy niat maen gak sih? 

 
Saya, Robby, Angga dan Ari
 

Tuan Canna, pemain bola idola saya

Fabio Cannavaro saat membela AC Parma

Fabio Cannavaro adalah salah satu pemain bola yang paling idolain waktu jaman SMP dulu. Canna lahir di Napoli, 13 September 1973 dan merupakan kakak kandung dari Paolo Cannavaro. Saya ngefans banget waktu Tuan Canna maen di AC Parma, rambutnya gondrong pake bando, keren, maennya juga bagus, tangguh banget jadi bek. Koleksi poster Canna banyak banget dikamar saya waktu itu, sebagian masih saya simpen rapi sampe sekarang. Meski berpostur tubuh pendek bagi seorang bek, namun Canna siap bertarung untuk bola-bola atas karena dia punya loncatan yang tinggi. Selain pernah bermain untuk Napoli dan Parma, Canna juga pernah maen di beberapa klub top eropa lain seperti Inter Milan, Juventus, dan Real Madrid. Sejak tahun 2005 Piala Dunia 2010 berakhir ia dipercaya memimpin rekan-rekannya di tim nasional Italia.

Canna mempunyai kemampuan membaca permainan yang tinggi sehingga sering berhasil mematahkan serangan lawan. Bersama dengan Alessandro Nesta, dan Paolo Maldini, mereka menjadikan pertahanan Italia sebagai salah satu barisan pertahanan terbaik dunia di masanya. Debutnya di tim nasional terjadi pada 22 Januari 1997. Ia telah memperkuat tim nasional Italia di Piala Dunia 1998, 2002 dan 2006, serta Piala Eropa 2000 dan 2004. Canna terpilih sebagai Pemain Terbaik Eropa dan Pemain Terbaik Dunia FIFA pada tahun 2006. Sebelum pensiun sebagai pemain sepakbola professional, Canna sempat bermain di klub Al Ahli.


 
 
 

Dona at Gaol Futsal

Skuad yang tak lengkap, ckckck...

Gaol futsal adalah salah satu tempat futsal yang dulunya sering buat maen ama temen-temen Dona. Kami biasanya maen disini pagi nyari hari yang kosong jadwal kuliah pagi, klo maen pagi tu resiko nya adalah dateng nya suka pada telat, jadi banyak waktu kebuang percuma deh. :(  mana dateng nya jauh lagi, ane dari selatan karena lokasi gaol itu daerah utara. Tapi gak apalah yang penting bs ngumpul, bisa ketawa bareng, bisa cari keringet rame-rame, yang penting heppy, yang gak hepi tu klo waktu urunan bayarnya. Haha.. Ini dia nih beberapa kenarsisan dari para skuad disela-sela berolahraga agar badan tetap prima. Ckckck...